Nama Patogen : Peronosclerospora maydis

Inang               : Jagung

Gejala             :

P. maydis dapat menghambat pembentukan tepung sari dan tongkol sehingga biji yang dihasilkan sangat sedikit atau tidak menghasilkan biji sama sekali (De-Leon, 1984). Hal ini disebabkan karena tanaman yang terserang penyakit tersebut mengalami hambatan dalam berfotosintesis sehingga pembentukan dan pertumbuhan organ-organ vegetatif dan reproduktif terhambat. gejala menjadi sistemik, bila tidak gejalanya lokal pada bagian yang terinfeksi. Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal (Gambar 1a). Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik, tampak dengan jelas pada pagi hari. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali.

Siklus penyakit :

Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidak begitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor (Gambar 1b) dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora,daun kotiledon tetap sehat.

Kondisi yang mendukung perkembangan : tumbuh subur di iklim lembab dan suhu udara. Kelembaban di atas 80%, suhu 28-30oC dan adanya embun ternyata dapat mendorong perkembangan penyakit.

Pengendalian :

Perakitan kultivar yang tahan penyakit bulai melalui suatu seri persilangan merupakan cara yang lebih aman dan efektif dalam mengatasi penularan penyakit tersebut, dibandingkan dengan penggunaan fungisida seperti fungisida berbahan aktif metalaksil. Hal ini disebabkan karena residunya dapat mencemari lingkungan dan merupakan salah satu penyebab mahalnya harga benih jika diaplikasikan pada benih jagung komersial sebelum dipasarkan, terutama benih hibrida di tingkat petani. Teknologi pengendalian penyakit bulai pada jagung yang umum diterapkan adalah:

· Penggunaan varietas tahan (Balitsereal 2005)

· Pemusnahan tanaman terinfeksi

· Pencegahan dengan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil

· Pengaturan waktu tanam agar serempak

· Pergiliran tanaman.

1)     penanaman
dilakukan menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola
pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul; (3) dilakukan
pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan.

Beberapa penyebab mewabahnya penyakit bulai:

1) Penanaman varietas jagung rentan bulai;

2) Penanaman jagung berkesinambungan;

3) Efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi atau dipalsukan;

4) Tidak adanya tindakan eradikasi;

5) Adanya resistensi bulai terhadap fungisida metalaksil; dan

6) Peningkatan virulensi bulai terhadap tanaman inang jagung.

Comments are closed.