Melihat kondisi petani padi sekarang ini dapat dikatakan “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Dimana pada saat panen, harga gabah selalu tidak karuan. Meskipun telah diberlakukan kebijakan harga dasar/minimum untuk menolong petani, namun sepertinya kebijakan itu tidak efektif. Yang dialami hanyalah merugi dan merugi saja. Ini ditambah dengan kehadiran musuh utama petani, yaitu tikus sawah yang menyebabkan produksi tanaman padi turun drastis. Pengendalian yang dilakukan selama ini oleh petani nampaknya belum memberikan kepuasan. Bahkan di setiap kesempatan temu petani dengan penyuluh lapang atau dinas pertanian, pertanyaan petani selalu mengarah pada bagaimana pengendalian yang paling efektif dan paling mujarab untuk melawan serangan tikus ini. Rupanya hama tikus sawah ini benar-benar menjadi momok bagi para petani khususnya petani padi. Bahkan kini tikus-tikus ini tidak hanya menyerang tanaman padi saja, tetapi juga telah berani merusak tanaman hortikultura lain dan palawija seperti melon, semangka, jagung, kacang dan lain-lain.

Kekesalan yang dialami para petani harus kita pahami dan maklumi karena selain membuat kerusakan, tikus-tikus itu juga menyerang tanamanan yang selama ini dipelihara, sehingga upaya pengendalian tikus ini mutlak harus dilakukan. Menurut Ir. Kusnaedi (1999) dalam bukunya yang berjudul “Pengendalian Hama Tanpa Pestisida” mengungkapkan bahwa sebetulnya banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi hama tikus ini. Namun, keterbatasan modal, maupun waktu dari para petani itu sendiri membuat langkah pengendalian kurang tepat. Pengendalian hama tikus akan lebih berhasil bila dilakukan secara berkesinambungan, dan didukung oleh seluruh masyarakat setempat. Gerakan massal untuk mengendalikan hama yang sering disebut gropyokan seringkali dilakukan petani bersama kelompoknya, hanya saja gerakan ini dilakukan sewaktu-waktu saja sehingga terkesan kurang efektif.

Tikus tergolong binatang Omnivora artinya dia bisa memakan apa saja baik itu tumbuhan maupun daging.. Tikus yang sering membuat petani jengkel ini adalah jenis tikus sawah yang memiliki ciri antara lain : badannya kecil, berbulu hitam keabu-abuan dan berdada putih dan lebih menyukai makanan berupa padi, ubi-ubian serta kacang-kacangan. Tikus ini pun berbeda dengan jenis tikus rawa maupun tikus got yang memiliki badan yang lebih besar. Serangan tikus ini tidak terlepas dari upaya pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Dimana seekor tikus pada masa pertumbuhannya membutuhkan makanan yang banyak. Seekor tikus betina mampu hamil sambil menyusui dan sekali melahirkan bisa mencapai 10 ekor, dengan waktu yang sangat singkat. Tingginya populasi tikus menuntut kebutuhan makan yang banyak pula, akibatnya mereka mencari makanan yang tidak ada di sekitar mereka dengan cara merusak tanaman. Habitat tikus ini dapat berupa sawah, pematang, rawa, semak-semak, gudang dan rumah-rumah. Namun umumnya tikus hidup di lubang-lubang bawah tanah. Adapun cara penyerangannya di areal padi adalah dimulai dari arah tengah kemudian ke pinggir.

Pengendalian

Upaya pengendalian hama tikus yang umum dilakukan adalah : pengemposan, pemberian racun, gropyokan, perangkap, dan penggunaan musuh alami. Berikut akan diuraikan tentang beberapa cara pengendalian hama tikus :

1. Pengemposan

Pengemposan dilakukan dengan cara memberikan asap belerang pada lubang-lubang tikus dengan tujuan agar tikus yang berada dalam lubang tersebut keracunan yang pada akhirnya akan mati. Cara ini cukup efektif dalam mengendalikan hama tikus secara langsung. Namun bila lokasi tikus berada jauh di dalam sedangkan gas belerang yang dimasukkan tidak mencapainya, cara ini tidak akan berhasil. Selain itu cara pengemposan ini cukup mahal.

2. Pemberian Racun

Penggunaan Racun adalah cara yang paling banyak digunakan petani dalam mengendalikan tikus. Saat ini telah banyak dijual berbagai jenis racun tikus dengan keunggulan masing-masing. Penggunaan racun ini dilakukan dengan memberikan rodentisida pada makanan tikus sebagai umpan. Hanya saja, penggunaan racun ini selain kurang efektif tetapi juga akan membunuh musuh alami yang memakan tikus ini.

3. Perangkap

Banyak alat-alat yang dapat dirancang untuk menangkap tikus. Dengan menggunakan perangkap ini selain murah, juga aman bagi manusia maupun bagi musuh alaminya. Namun demikian, pemakaian alat perangkap ini harus memperhatikan jenis umpan yang digunakan. Terkadang tikus jeli terhadap suatu umpan atau hapal pada suatu jebakan. Oleh kerana itu diperlukan adanya variasi umpan dan jebakan yang tidak mudah dihapal tikus. Penggunaan umpan yang mencolok seperti ubi-ubian yang dipasang pada tanaman palawija yang belum menghasilkan umbi akan menarik perhatian tikus. Beberapa perangkap tikus yang sering digunakan antara lain : perangkap kawat, perangkap jepit, jala kremat, lubang bambu, dan lain-lain.

4. Gropyokan

Gropyokan adalah gerakan pembasmian hama yang dilakukan secara massal dengan cara pemburuan bersama-sama. Pengendalian gropyokan melibatkan seluruh masyarakat. Sistem gropyokan ini akan lebih efektif bila hasil tangkapannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain atau ada upah bagi yang menangkap hama. Pemanfaatan hasil tangkapan merupakan salah satu faktor yang dapat memotivasi semaraknya sistem gropyokan. Hama tikus yang berhasil ditangkap dapat dimanfaatkan kulitnya untuk menjadi bahan kulit. Sayangnya di Indonesia sistem gropyokan hanya dilakukan pada awal-awal tanam atau saat tertentu saja.

Nama Patogen : Peronosclerospora maydis

Inang               : Jagung

Gejala             :

P. maydis dapat menghambat pembentukan tepung sari dan tongkol sehingga biji yang dihasilkan sangat sedikit atau tidak menghasilkan biji sama sekali (De-Leon, 1984). Hal ini disebabkan karena tanaman yang terserang penyakit tersebut mengalami hambatan dalam berfotosintesis sehingga pembentukan dan pertumbuhan organ-organ vegetatif dan reproduktif terhambat. gejala menjadi sistemik, bila tidak gejalanya lokal pada bagian yang terinfeksi. Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal (Gambar 1a). Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik, tampak dengan jelas pada pagi hari. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali.

Siklus penyakit :

Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidak begitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor (Gambar 1b) dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora,daun kotiledon tetap sehat.

Kondisi yang mendukung perkembangan : tumbuh subur di iklim lembab dan suhu udara. Kelembaban di atas 80%, suhu 28-30oC dan adanya embun ternyata dapat mendorong perkembangan penyakit.

Pengendalian :

Perakitan kultivar yang tahan penyakit bulai melalui suatu seri persilangan merupakan cara yang lebih aman dan efektif dalam mengatasi penularan penyakit tersebut, dibandingkan dengan penggunaan fungisida seperti fungisida berbahan aktif metalaksil. Hal ini disebabkan karena residunya dapat mencemari lingkungan dan merupakan salah satu penyebab mahalnya harga benih jika diaplikasikan pada benih jagung komersial sebelum dipasarkan, terutama benih hibrida di tingkat petani. Teknologi pengendalian penyakit bulai pada jagung yang umum diterapkan adalah:

· Penggunaan varietas tahan (Balitsereal 2005)

· Pemusnahan tanaman terinfeksi

· Pencegahan dengan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil

· Pengaturan waktu tanam agar serempak

· Pergiliran tanaman.

1)     penanaman
dilakukan menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola
pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul; (3) dilakukan
pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan.

Beberapa penyebab mewabahnya penyakit bulai:

1) Penanaman varietas jagung rentan bulai;

2) Penanaman jagung berkesinambungan;

3) Efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi atau dipalsukan;

4) Tidak adanya tindakan eradikasi;

5) Adanya resistensi bulai terhadap fungisida metalaksil; dan

6) Peningkatan virulensi bulai terhadap tanaman inang jagung.

Salah satu hambatan dalam menaikkan produksi beras di Indonesia adalah serangan hama wereng coklat (Nilaparvata Lugens). Wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Kerusakan secara tidak langsung terjadi karena serangan penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa yang ditularkannya. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang ditemukan pada persemaian, tetapi sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen.

Bila tanaman padi muda terserang, menjadi berwarna kuning, pertumbuhan ter-hambat dan tanaman kerdil. Pada serangan yang parah keseluruhan tanaman menjadi putih, kering dan mati, perkembangan akar merana dan bagian bawah tanaman yang terserang menjadi terlapisi oleh jamur, yang berkembang pada sekresi embun madu serangga. Serangga hama wereng coklat di Indonesia telah diketahui sejak sebelum perang dunia ke-II dengan luas daerah serangan yang terbatas. Serangan hama wereng pertama kali dilaporkan pada tahun 1931, yaitu dengan merusak beberapa petak tanaman padi di daerah Darmaga, Bogor kemudian Mojokerto pada tahun 1939, di Yogyakarta pada tahun 1940. Sampai tahun 1951 luas areal yang terserang sekitar 50 – 150 Ha padi sawah permusim di Jawa. Serangan hebat mulai terdapat di Jawa sekitar tahun 1969 dan di Sumatera Utara sekitar tahun 1972. Pada sekitar tahun 1974 terjadi epidemi di Sumatera Utara, Jabar, Jateng dan Jatim. Dua tahun setelah itu serangan wereng coklat meliputi seluruh wilayah Indonesia kecuali Irian Jaya dan Maluku. Pada tahun 1976 – 1977 lebih dari 450.000 Ha sawah diserang wereng coklat dan kerugian yang disebabkannya mencapai 100 juta US $. Pada tahun 1987 beberapa ribu Ha pertanaman padi di D. I. Yogyakarta dan Jateng terserang berat wereng coklat. Varietas utama yang banyak terserang adalah Cisadane. Wereng coklat ini agak berbeda dengan wereng coklat biotipe 1, 2, 3, 4 dan SU. Masalah wereng coklat ini bertambah kompleks dengan munculnya biotipe-biotipe baru. Hal ini disebabkan oleh kemampuan wereng coklat yang sangat tinggi untuk beradaptasi terhadap per-ubahan lingkungan. Siklus hidup wereng coklat yang pendek ( hanya 21- 30 hari dari stadia telur sampai dewasa), kemampuan berreproduksi yang tinggi ( di alam, seekor wereng betina mampu bertelur 100-600 butir semasa hidupnya), dan sifatnya yang hanya memakan padi, mendorong munculnya biotipe baru yang bisa mematahkan resistensi padi yang semula dianggap tahan. Hal ini terutama bila varietas tahan itu ketahanannya hanya terdiri dari satu gen dan ditanam monokultur terus-menerus.

PERUBAHAN BIOTIPE

Perubahan biotipe wereng coklat ini sebenarnya terjadi melalui seleksi alam. Dalam pertanaman padi yang intensif, penggunaan insektisida yang tidak tepat mematikan musuh alami tapi tidak mematikan telur dan nimfa wereng secara keseluruhan. Wereng yang selamat merupakan wereng yang secara genetik memang terseleksi dari lingkungan yang tidak menguntungkan. Hal ini mungkin terjadi karena populasi wereng coklat yang tinggi menyebabkan ke-ragaman genetik yang berbeda. Intensifikasi dengan varietas lokal yang unggul, memunculkan biotipe I yang dapat memusokan sawah. Kemudian diperkenalkan IR 26, dengan gen resistensi Bph 1 ( Bph = Brown Plant Hopper ), tapi kemudian muncul biotipe 2 . Selanjutnya dikenalkan IR 36 dengan gen resisten Bph 2 yang semula resisten terhadap biotipe 2 ternyata bisa dipatahkan dengan muculnya biotipe 3 yang latent. Lalu diper-kenalkan IR 56 dengan gen resisten Bph 3, tetapi kembali pertanaman yang monokultur dan terus-menerus meng-akibatkan gen resisten Bph 3 patah kembali. Kemudian diperkenalkan IR 64 dengan gen resistens Bph 4 yang tahan terhadap serangan wereng coklat biotipe 3 sampai sekarang.

PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan yang hanya mengandalkan sepenuhnya pada pengendalian wereng pada penanaman varietas tahan saja, ternyata tidak mencegah eksplosi serangan. Harus diikuti tindakan lain, seperti pergiliran antar varietas dan antar tanaman. Sedangkan peng-gunaan insektisida, hanya dibatasi pada saat diperlukan, tapi bukan untuk pencegahan. Varietas padi yang tahan saat ini baru mampu dibuat dari satu gen resisten saja. Memang resistensinya sangat tinggi terhadap serangan wereng, tetapi tidak bisa bertahan lama karena sifat wereng yang hanya makan padi dengan keraganan genetik yang tinggi. Sampai saat ini sudah empat gen resisten wereng coklat yang ditemukan yaitu Bph 1, Bph 2, Bph 3 dan Bph 4. Waktu pengaturan tanam yang serempak merupakan prioritas pertama pengendalian wereng, karena secara efektif menekan populasi wereng melalui pemutusan rantai makan. Wereng coklat yang bermigrasi ( yang bersayap panjang ), biasanya mencari tanaman muda didekatnya bila tanaman padi di tempat asal mendekati pembungaan. Penggunaan insektisida hanya digunakan bila jumlah wereng melewati ambang ekonomis per rumpunnya. Penyemprotan pun tidak bisa dilakukan pukul rata pada semua areal yang luas ( Blanket spray ), tetapi per lokasi serangan. Hal ini selain dapat mencegah matinya musuh alami yang sebenarnya cukup efektif memangsa wereng coklat, tetapi juga mencegah munculnya resurjensi dan resistensi wereng coklat tersebut. Pada Blanket spray, musuh alami mati tapi telur dan nimfa wereng tidak mati, lalu mereka tumbuh subur karena tidak ada saingannya. Pada pen-yemprotan per lokasi, wereng di lokasi penyemprotan saja yang mati dan apabila cara penyemprotannya benar, telur dan nimfanya pun akan mati, sehingga kemungkinan resistensi yang menjurus timbulnya biotipe baru, bisa dicegah. Hal ini karena wereng di luar lokasi penyemprotan berinteraksi melalui per-kawinan dengan wereng di lokasi penyemprotan sehingga resistensi wereng coklat tersebut terhadap insektisida dan varietas padi yang ditanam tetap rendah. Penggunaan pestisida selalu membawa empat resiko yakni resistensi terhadap hama dan penyakit, munculnya hama dan penyakit baru akibat matinya musuh alami, resurjensi ( hama penyakit tersebut makin meningkat populasinya, juga disebabkan oleh matinya musuh alami akibat pestisida yang disemprotkan ) dan keracunan lingkungan. Setelah sekitar lima puluh tahun pestisida diperkenalkan, kini ditemukan pestisida generasi ketiga yang cara kerjanya tidak langsung mematikan serangga, tetapi merusak atau mengganggu proses fisiologis serangga. Salah satunya adalah buprofezin, yang dihasilkan Jepang, Mampu menahan telur wereng menetas dan nimfanya berganti kulit. Karena tidak bisa berganti kulit, padahal nimfa ini perlu bertambah besar untuk menjadi dewasa, maka nimfa tersebut akan mati. Namun demikian pestisida ini mempunyai kendala utama yakni saat pemberiannya yang harus tepat. Hal ini berhubungan dengan periode migrasi wereng dewasa bersayap panjang (makro-ptera) pada awal pem-bentukan anakan. Setelah menetap, wereng coklat mulai berkembang biak satu atau dua generasi pada tanaman padi stadia vegetataif, tergantung saat migrasinya jika terjadi 2-3 Minggu Setelah Tanam ( MST ), imigran berkembang biak dua generasi. Puncak populasi nimfa generasi pertama dan ke dua berturut-turut muncul pada umur padi 5-6 MST dan 10-11 MST. Bila imigrasi terjadi setelah padi umur 5-6 MST, puncak populasi nimfa hanya satu kali, yaitu 9-10 MST. Serangga dewasa yang muncul setelah padi berumur 7 MST, umumnya bersayap pendek (brak-hiptera) yang tidak dapat bermigrasi dan bertelur ditempat asal. Setelah itu, akibat tekanan populasi, yang muncul adalah makroptera yang jumlahnya meningkat saat tanaman memasuki stadium pembungaan. Makroptera inilah yang bermigrasi mencari tanaman padi muda baru di dalam jangkauannya. In-sektisida selain buprofezin, yaitu yang berbahan aktif karbonat digunakan pada saat padi berumur 8-11 MST. Di sinilah tampak pentingnya pengamat-an hama, untuk mendeteksi jumlah populasi wereng coklat dewasa.